Buat Yang Masih Bingung

oleh: Abu Hudzaifah

Tulisan ini disusun berangkat dari kenyataan yang ada tentang masih rancunya orang yang memahami istilah “salaf” dan “salafy”.

Sebagian orang memahami bahwa salaf atau salafy itu sama, yaitu kelompok tersendiri dalam islam. Sebagian orang memahami bahwa salaf atau salafy itu identik dengan islam garis keras dan kolot. Sebagian orang lagi mengatakan bahwa dirinya mengaku tidak tahu. Sebagian lagi bahkan dengan bangga menyebutkan dirinya adalah salaf atau salafy, namun sayang ternyata dia tidak faham apa itu hakikatnya.

Maka berangkat dari sebuah artikel disuatu “blog”, yang mana di situ menunjukkan bagaimana masih minimnya pemahaman umat ini akan manhaj yang mulia ini, maka penulis memberanikan diri untuk menulis komentas atasnya.

Maka sengaja tulisan dikomentar tersebut, penulis tuang ulang kembali dalam blog ini, dengan harapan semoga lebih tersebar dan dapat diambil manfaat oleh yang lain.

Inilah salah satu opini yang ada dalam suatu blog (sengaja tidak disebutkan nama blognya):

Beda SALAF dengan SALAFY

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dear friends,

Kontroversi perbedaan dan persamaan antara SALAF dan SALAFY itu bener-bener bisa bikin umat bingung. Bisa jelasin antara SALAF dengan SALAFY.

Sebenarnya meraka itu SAMA apa BEDA sich????

Thank’s ya atas OPINInya…

Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Dan ini adalah salah satu komentar yang ada:

mas ..terkait istilah salafy apa hizb atau tidak , dibawah ini ada link..dari forum diskusi myquran dari seseorang yang ber id@wisdom yang mengonmetari seseorang berid @irzan, yang berkeyakinan salafy bukan hizby ; selamat menyimak :
———————————————————————————-
@irzan ; [i]”fanatisme terjadi ketika seseorang merasa bahwa pendapat kelompoknya yang benar, dan ini hanya terjadi ketika kelompok itu punya pendapat resmi. seorang salafy tidak bisa menjadi orang yang fanatik kepada kelompoknya, karena tidak ada pendapat resmi dalam salafy.”[/i]

Fanatik adalah urusan mentalitas manusianya. Ada atau tidak, pendapat atau fatwa resmi (atau bukan resmi). tidak menghalangi manusia untuk tetap bersikap fanatik. De Jure memang tak ada kelompok bernama salafiyah, mau cari ke Mahkamah Agung, Petugas Pembuat Akte, tak akan ada. Tapi secara De facto, salafiyah sebagai ‘kelompok’ memang ada, laa syakka fiihi. Sangat terang bagai terangnya matahari, keterangan Saudara Irzan bagaikan lampu paling terang di bumi, namun itu tak beharga berhadapan dengan fakta dan mentalitas manusianya, yang bagaikan matahari di siang hari.

Sekali lagi ini urusan perilaku, mentalitas, dan adab berjamaah dari manusianya. Orang fanatik ada di mana saja, baik yang OTB (Organisasi Tanpa Bentuk) atau yang jelas bentuknya. Fanatik bisa terlihat jelas tanpa harus menunggu ada ormas apa tidak …

[color=blue]Tutuplah gunung dengan bukit …
Tapi, gunung adalah gunung
bukit tidak sampai seperti gunung ..
[/color]
Lagi pula apa maksud pendapat resmi? apakah pendapat yang harus dikeluarkan oleh lembaga tertentu dan telah diakui oleh pimpinan dan anggota yang ikut berdiskusi? itukah pendapat resmi? kalau memang itu, maka Lajnah Daimah, Hai’ah Kibaril Ulama, Majma’ Buhuts, sudah ribuan pendapat/fatwa resmi mereka yang sudah dikeluarkan.Apakah Lajnah Daimah sebuah lembaga Ulama tanpa ketua dan pengurus (anggota)? apakah ada yang menyebut mereka hizb, padahal jelas-jelas ada ketua dan anggota? sehingga orang mengatakan Syaikh Fulan merupakan anggota Hai’ah kibaril Ulama, Syaikh Anu anggota lajnah Da’imah. Apakah karena itu mereka disebut hizb? jika ya, sungguh terlalu! Jika tidak apa bedanya dengan yang lain … ?

lalu bagaimana sikap manusia terhadap fatwa-fatwa mereka, ternyata ada yang mengikutinya, ada pula yang menolaknya, karena memang, dalam perkara ini, fatwa tidaklah mengikat, yang mengikat adalah syariat. Dan Syariat berbeda dengan fatwa, walau fatwa bagian dari syariat.

Jamaah secara bahasa adalah Al Qaumu Al mujtami’un/kaum yang berkumpul (lihat Syarah al Aqidah al Wasithiyah, Said bin Ali al Wahf al Qahthany, hal, 10)

Jadi, kumpulan manusia yang terikat oleh manusia lain yang sesuai visi, misi, dan pemikiran, walau mereka tidak pada wadah yang sama, walau seorang diri maka ia bagian dari jamaah pula.

Walau Saudara Irzan katakan, tidak pernah disebut ‘anggota salafy’, karena ’salafy’ bukan kelompok, maka itu hanyalah pilihan semantis (kata-kata) belaka. Sebab ternyata memang sehari-hari manusia lebih suka memanggil kalian, ‘Orang salafy’, sama saja bukan?

Ketika orang bertanya, ‘Dia siapa sih?’ jawabannya jarang kita mendengar orang menyebut ‘anggota PKS’, ‘Anggota HTI’, ‘Anggota Tarbiyah’, tapi lebih seriing yang terdengar adalah orang PKS, ORang HTI, dan Orang Tarbiyah. Sama juga …

Saudara Irzan membela hidup-hidupan (biasanya matia-matian …) bahwa salafy bukan hizb. Padahal, dia tahu di antara guru-gurunyaada yang dituduh hizby, turatsy, surury, oleh salafy yang lain, terus-menerus tanpa berkesudahan ….

Kenyataan memilukan ini, adalah bukti bahwa salafy juga hizb (bahkan menurut sesama salafy sendiri). Tidak mungkin manusia membicarakan sesuatu yang belum pernah ada, Orang membicarakan sesuatu karena sesuatu itu memang ada. Renungkan … artinya jika ada sesama salafy saja saling tuduh sebagai hizby, bukan sekadar pembicaraan lagi, maka kepastian hizby itu benar adanya …. entah pada faksi yang mana …

yang pasti, tidak mungkin dua-duanya tidak hizby …. Wadhih!?

wa akhiru da’wana anil hamdulillahi rabbil ‘alamin …
——————————————————————————————
nah kalau kita mau lihat tulisan-tulisan saudara wisdom ini, yang ana kira manfaat silakan bisa kita lihat :

Maka coba kita jawab:

assalaamu ‘alaikum

afw ana ikut nimbrung..semoga kehadiran ana tidak menambah kebingungan..tapi sebaliknya menambah suatu menjadi terang..

“Sungguh, aku tinggalkan kalian di atas yang putih bersih, malamnya seperti siangnya (artinya sangat2 jelas). Tidak akan menyimpang daripadanya sepeninggalku kecuali orang yang celaka.” (HR Ibnu Majah (1/16), Ahmad (4/126), Al Hakim (1/175) )

“Barang siapa yang kalian hidup sepeninggalku, maka kalian akan menyaksikan perselisihan yang sangat banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang kepada sunnahku (ajaranku) dan sunnahnya para khulafaur rosyidin” (HR abu dawud 4608, tirmidzi 2676, ibnu majah 44).

Umatku nanti akan terpecah menjadi 73 kelompok (HR Ahmad dan lainnya). Dalam riwayat tirmidzi ada tambahan “semuanya masuk neraka kecuali satu, yaitu aku dan para sahabatku yang berada di atas jalan tersebut”

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (At taubah : 100)

Dari hadist2 di atas maka:

1. Sungguh islam sudah jelas dan terang, sesuatu itu menjadi tidak jelas dan membingungkan itu disebabkan karena “masih bodohnya” kita semua (sehingga janganlah malas untuk belajar dan bertanya) dan banyaknya syubhat yang bertebaran.

2. Salahkah ana apabila ana ingin selamat dari “fitnah”, ana menginginkan menjadi “golongan yang selamat” (firqoh an naajiyah) ?

3. Dari banyak nash, alqur’an maupun as sunnah (hadist), maka golongan yang selamat adalah “orang-orang yang berpegang teguh kepada alqur’an dan as sunnah sesuai dengan apa yang difahami dan di amalkan oleh oleh rosululloh dan para sahabatnya”. Sepakatkah kita dengan ini?

4. Mengapa tidak cukup bagi ana untuk mengatakan “berpegang teguh kepada alquran dan as sunnah “(titik)?

jawabnya: karena semua orang atau kelompok pun demikian. Tidak ingatkah kita dengan kelompok “khowarij” yang diperangi oleh Ali Rodhiyallohu anhu? Bukankah mereka sangat berpegang teguh kepada keduanya? bahkan “jargon” yang mereka bawa adalah “tidak ada hukum melainkan milik Allah” (al an’am : 57). Lalu dimana letak kesalahan khowarij? Salahkah Ali radhiyallohu anhu memerangi mereka? apakah kita akan katakan ali radhiyallohu anhu sebagai “tukang ribut”? apakah mereka (orang khowarij) tidak berpegang kepada al qur’an dan as sunnah?

Kita jawab : “mereka telah berpegang teguh..namun dengan pemahaman yang salah, bukan menurut pemahamannya nabi dan para sahabatnya..namun dengan pemahaman akalnya sendiri, kelompoknya sendiri atau pemimpinnya sendiri. Dan ali rodhiyallohu anhu tidak salah, karena selain jihad terhadap orang2 kafir, kita juga diwajibkan untuk berjihad terhadap orang-orang yang memiliki pemikiran menyimpang. Dan itulah yang dilakukan olah para ulama’ dalam membantah pemikiran-pemikiran atau syubhat2 yang batil lewat tulisan2 mereka. Dan karena waktu itu ali rodhiyallohu anhu adalah amirul mu’minin, maka beliau bisa berjihad dengan tangannya (memeranginya)

Maka dengan tambahan “sesuai dengan pemahaman nabi dan para sahabatnya” itu akan dengan sendirinya memilah mana yang benar dan mana yang salah.

5. Lalu gimana saya tahu itu sesuai dengan pemahaman dan pengamalan nabi atau bukan?

Maka jawabnya: B E L A J A R

Bukalah, bacalah dan fahamilah kitab2 para ulama yang terpercaya atau mu’tabar, semisal Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ath Thohawi, Al Qurthubi, Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim dll. Dan juga ulama’2 sekarang semisal syaikh albani, syaikh bin baz, syaikh ibnu utsaimin dll (semoga Alloh merahmati mereka semuanya). Maka akan antum temukan banyak “mutiara” yang terpendam di dalamnya dan penjelasan yang terang benderang, seterang matahari di siang bolong.

6. Tapi gimana saya gak ngerti bahasa arab?

Kita jawab: maka memang benar, kebodohan adalah penghalang untuk sampainya hidayah. Jadi belajarlah Bahasa Arab.

7. Tapi belajar bahasa arab kan perlu waktu lama, gimana nanti kalau saya mati sebelum bisa bahasa arab? Gmn saya bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah?

Jawabnya: Maka sambil belajar bahasa arab, bacalah buku terjemahnya dari “penerjemah dan penerbit yang terpecaya”. Dan juga belajarlah dari guru atau ustadz yang juga “terpecaya” akan ilmu dan akhlaknya.

8. mengapa sih harus pake “terpercaya” segala?

Jawabnya: Ingat perkataan nabi bahwasanya akan ada nanti da’i-da’i yang mereka menyeru pada neraka jahanam (kesesatan) (HR muslim 1847). dan juga perkataan seorang tabi’in bernama Muhammad bin Sirin mengatakan: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” Beliau juga berkata: “Dahulu orang-orang tidak bertanya tentang sanad (rangkaian para rawi yang meriwayatkan) hadits, maka tatkala terjadi fitnah mereka mengatakan: sebutkan kepada kami sanad kalian, sehingga mereka melihat kepada Ahlussunnah lalu mereka menerima haditsnya dan melihat kepada ahlul bid’ah lalu menolak haditsnya.” (Riwayat Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya)

9. Nah..kesimpulannya, cara beragama (atau yang lebih dikenal dengan istilah “manhaj”) yang benar dan selamat adalah cara beragama dengan berpegang teguh kepada al qur’an dan as sunnah sebagaimana yang di fahami dan diamalkan oleh nabi dan para sahabatnya”.

Nah..untuk menyingkat itu maka sebutlah dengan istilah “manhaj salaf”.

Dan orang yang meniti manhaj salaf disebut dengan salafy (dalam bahasa arab disebut dengan nisbah pelakunya). Seperti orang yang mengikuti fahamnya asy’ariyah disebut asy’ari, orang yang mengikuti madzhabnya imam abu hanifah disebut hanafi, mengikuti imam ahmad disebut hambali.

10. Jadi, salaf adalah penisbatan kepada nabi dan para sahabatnya (yakni dalam beragama ini, baik keyakinan ataupun amalan). Sedangkan salafy adalah orangnya, yakni orang yang menisbahkan cara beragamannya dengan “salaf” yaitu nabi dan para sahabatnya.

11. terakhir…(afw agak panjang)

Mungkin ada yang bertanya: tapi banyak sekarang yang mengaku bermanhaj salaf tapi kenyataannya…?

Kita jawab: manhaj ini tidak butuh pada pengakuan, namun yang diperlukan bukti. seperti syair arab: “semua orang mengaku punya hubungan dengan laila, akan tetapi laila tidak mengakuinya”.

Maka ada 2 kemungkinan kalau ada orang yang mengaku bermanhaj salaf, namun kenyataaanya ucapan dan perbuatannya jauh dari manhaj salaf. Pertama: pengakuannya dusta. Kedua: pelakunya telah khilaf (setiap bani adam pasti punya salah). Maka celalah pelakunya (personnya), jangan antum hubungkan dengan mulianya “manhaj” ini.

Terakhir…..TERUSLAH BELAJAR…karena nabi bersabda: “barang siapa yang Allah ingin kehendaki baginya kebaikan, maka Allah akan fahamkan dia tentang masalah (ilmu) agama (HR Bukhori dan Muslim).

Paling terakhir..bagi yang masih bingung antara “salaf” dengan “salafi” adalah seperti orang non muslim yang masih bingung antara “islam” dengan “muslim”. (awas..! jangan salah faham, nanti ana dikira takfir, yaitu menyatakan orang yang masih bingung sama dengan non muslim. Tapi yang ana samakan adalah dari sisi “bingungnya”.

Maka janganlah islam ini dirusak dengan istilah “islam garis keras”, “islam moderat”, “islam militan” “islam nasionalis” dsb. ISLAM ya islam…dengan segala keagungan syariatnya. Maka kalau ada orang islam (muslim) yang suka ngebom (baca “teror), suka nyuri, kolot, jorok, pemalas….maka CELALAH PELAKUNYA. Dan jangan kau hubungkan sedikitpun dengan mulianya syari’at ini.

Dan ketika semua orang mengaku dirinya adalah beragama islam, namun kenyataannya mereka memahaminya hanya dengan akal mereka sendiri, kelompoknya, pemimpinnya dan hawa nafsunya sendiri, maka salahkah bila kita mengatakan bahwa islam yang benar adalah islam yang sesuai dengan apa yang pernah difahami dan diamalkan oleh rosululloh dan para sahabatnya?

Ana tidak sedang menyatakan pembenaran atas diri ana sendiri, karena meskipun ana mengaku bermanhaj salaf (salafy), namun sebagaimana manusia biasa, ana juga tak luput dari khilaf. Namun ana sedang menyatakan pembenaran atas cara beragama atau manhaj yang benar.

Mudah2an komentar ini bermanfaat untuk kita semuanya… dan afwan apabila ada kata2 yang mungkin kasar atau kurang pas, sekali lagi itu karena kekhilafan dan kebodohan ana, bukan karena jeleknya atau kurang sempurnanya manhaj salaf ini dalam metode menasehati atau amar ma’ruf nahi munkar.

2 responses to “Buat Yang Masih Bingung

  1. Assalamu’alaikum…
    Saudaraku, Seiman, Seaqidah…

    Ana Arif
    Ana, hanya ingin berbagi dan saling menasehati sesama kita…

    Saudaraku, tak ada gunanya kita saling mempermasalahkan penisbatan
    manhaj salaf atau manhaj ahlussunnah demi membedakan mana
    yang lebih benar atau tidak…

    Yang jelas manhaj salaf atau manhaj ahlussunnah itu adalah sama
    dihadapan Alloh swt… yang membedakan hanyalah ketaqwaan…

    Ingatlah yang Alloh dan Rosull-Nya, perintahkan
    adalah memegang teguh serta mengamalkan Al Qur’an & As Sunnah

    Bukan saling berselisih ataupun saling menyalahkan satu sama lainnya…
    karena kita semua ini adalah bersaudara selama Aqidah kita tetap sama
    dalam berTauhid kepada Alloh…

    Adapun apabila ada perbedaan ditengah kita semua,…
    mari kita selesaikan dengan bijak, baik, & benar…
    karena Alloh dan Rosullnya sudah memberitaukan dengan jalan
    yang haq jalannya para salafussholeh/sahabat nabi yaitu kembali kepada 2 buah pedoman umat Islam yaitu Al Qur’an dan As Sunnah…

    InsyaAlloh atas izin-Nya, kita bisa mendapatkan solusi terbaik
    atas setiap masalah yang kita hadapi…Amin

    Saudaraku, sudah keterlaluan apabila sesama umat Islam
    saling bermusuhan bahkan saling membunuh…
    disebabkan atas kebodohan kita sendiri sebagai umat Islam
    karena setiap PERBEDAAN kita selesaikan dengan cara
    mengikuti HAWA NAPSU semata,
    padahal semua itu adalah tipu daya muslihat IBLIS La’natulloh alaih…
    tuk memperdayai kita semua supaya
    diantara Umat Islam terjadi PERPECAHAN & PERMUSUHAN…

    Dan apabila sudah terjadi seperti itu…
    dengan mudah MUSUH2 Alloh bisa melumatkan & menghancurkan
    Agama Islam itu sendiri…

    Sungguh!!!, apakah kita semua rela bila terjadi seperti itu…
    pasti bila kita memang mengaku diri seorang MUSLIM…
    sudah dipastikan tidak akan mau terperdaya oleh tipuan IBLIS…

    Saudaraku, mungkin itu saja yang bisa ana sampaikan
    mudah2han bermanpaat buat kita semua…
    mohon maap bila ada kesalahan dalam komentar ini…

    Pesan : ” JALINLAH PERSAUDARAAN DIANTARA KITA SESAMA MUSLIM ”

    Arif
    http://www.tanyatentangkami.wordpress.com.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s