Zuhud Ala Abu Dzar Radhiyallahu Anhu

Oleh: Abu Faradisa

Dia melihat sekeliling kamar itu, sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala dia berkometar, “zuhud sekali, Bah”.Mendengar komentar itu, aku hanya tersenyum. Sobatku itu memang tidak menemukan apa-apa di kamar kostku yang berukuran 3×3, yang kuhuni dengan istriku. Dia hanya menyaksikan tikar, peralatan mandi dan mencuci, beberapa piring dan gelas beserta peralatan masak, dan beberapa buah kardus. Dia juga tak menemukan almari di ruangan ini. Selama 5 tahun lebih tinggal di Jogja, aku memang tidak pernah menggunakan almari; pakaianku kusimpan dalam kardus.

Setelah sobatku pulang, aku teringat dengan kalimatnya,…”zuhud” Zuhud…ya; zuhud! Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita semua untuk bersikap zuhud? ” Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tunjukkan kepadaku satu perbuatan yang jika kulakukan Allah mencintaiku dan manusia juga mencintaiku!” Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bersikap zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu dan bersikap zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, niscaya manusia mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Albani)

Ada yang menarik untuk dikaji dari sikap zuhud nya para sahabat. Misalnya, kezuhudan Abu Dzar Al-Ghifari. Dari Abu Syu’bah diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki yang datag menemui Abu Dzar dazn menawarkan bantuan dana kepadanya. Abu Dzar berkata, “Kami sudah memiliki kambing yang dapat kami peras susunya, binatang kendaraaan yang dapat kami kendarai, bahkan juga budak yang melayani kami, ditambah lagi pakaian yang dapat kami kenakan. Aku khawatir, bila aku akan dihisab karena kelebihan harta.”

Beliau juga pernah menolak seseorang yang mengirimkan tiga ratus dinar ketika Abu Dzar memiliki kebutuhan mendesak. Beliau juga pernah menolak menambah jumlah makanan sehari-harinya lebih dari yang pernah dia miliki di masa hidu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini dikarenakan beliau takut kalau hal itu merupakan salah satu pintu ketergantungan dengan dunia dan gemerlapannya.

Abu Dzar sering menolak harta pemberian orang. Menurut beliau, meskipun beliau sudah menunaikan hak Allah, mencarinya melalui jalan yang halal, membelanjakan juga dalam ketaatan, namun harta itu bisa saja menagguhkan masuknya dirinya ke dalam Surga di hari kiamat nanti, meski hanya sekejap. Pemilik dua dirham lebih besar hisabnya di hari kiamat ketimbang pemilik sztu dirham.

Ketika beliau meninggal, beliau mewariskan dua ekor keledai betina, seekor keledai jantan, seekor domba, dan beberapa kendaraan tunggangan.

Kedermawanan Abu Dzar juga dapat kita jadikan pelajaran, seringkali beliau tidur dalam keadaan lapar yang melilit, dikarenakan untuk membuat kenyang tetangga dan tamu-tamunya. Suatu ketika Abu Dzar memerah susu kambingnya dan kemudian beliau berikan kepada para tetangga dan tamu-tamunya sebelum untuk dirinya. Beliau hanya meninggalkan satu perasan saja untuk beliau. Beliau juga memberikan kurma, meskipun jumlahnya sedikit. Beliau malah meminta maaf dan mengatakan bahwa kalau beliau memiliki yang lebih baik dari ini, tentu akan diberikannya. Pada malam itu, beliau tidak makan apa-apa, diberikan semuanya kepada para tamu dan tetangga.

Suatu ketika, Muawiyah mengirim seseorang kepad aAbu Dzar dengan membawa seribu dinar. Pada hari itu juga, uang itu dibagi-bagikan oleh Abu Dzar. Hari berikutnya, Muawiyah mengutus orang yang sama, utusan itu mengatakan, “Sesungguhnya Muawiyah hendak mengutusku kepada orang lain, bukan kepadamu, tetapi aku salah alamat. Tolong kembalikan uang emas itu.” Abu Dzar menjawab, “Celaka Engkau, harta itu telah habis kubagi-bagikan. Tetapi kalau aku punya harta nanti, akan aku buat perhitungannya.

Ada pelajaran menarik dari kisah di atas, bahwa kezuhudan Abu Dzar bukanlah berasal dari ketidakmampuan atau secara kebetulan. Beliau sering ditawari harta namun menolaknya. Bahkan beliau pernah ditawarin kedudukan, tapi menolaknya. Ya, kezuhudan beliau merupakan suatu pilihan, bukan karena keterpaksaan!!!

Hal ini menjadikan ku berpikir, bahwa kita mesti mengoptimalkan semua potensi yang ada, agar kita memiliki kebebasan finansial, dalam artian, kita memiliki banyak pilihan, bahwa kita memiliki kebebasan untuk bekerja atau tidak bekerja, punya pilihan bekerja dengan siapa, membeli keperluan hidp tanpa khawatir soal harga, ke dokter manapun yang kita inginkan tanpa khawatir biaya, memiliki kebebasan untuk beribadah dan melakukan amal shalih tanpa takut dengan uang yang mesti kita keluarkan (misalnya ibadah haji, membangun masjid, dsb.) dan yang penting juga kita memiliki kebebasan untuk menginfakkan harta kita di jalan Allah, untuk ikut ambil bagian dalam usaha iqamatuddin.

Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas, atau bekerja tidak dengan gigih, lemudian membawa istilah zuhud sebagai pembenaran, sebagai satpam dan pagar kemalasanku. Amin.

Nb: bagaimana dengan zuhud kita? Zuhud keterpaksaan, kebetulan, atau karena sebuah pilihan? Mari kita introspeksi.

Sumber: Jilbab Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s